IMF Perkirakan 2009 Resesi

08 2008 06:55 WIB
WASHINGTON–MI: Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan perkembangan ekonomi akan menyusut tahun depan di bawah tekanan kredit yang memaksa perbankan Eropa memangkas suku bunganya.

Dalam revisi proyeksi ekonomi yang dibuat kurang dari sebulan lalu, IMF mengatakan perekonomian di negara maju kini terlihat menyusut 0,3 persen di 2009, setelah sebelumnya diperkirakan tumbuh 0,5 persen.

Itu lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8 poin menjadi 2,2 persen.

“Prospek pertumbuhan dunia memburuk selama bulan lalu karena kekacauan di sektor keuangan masih berlanjut dan kepercayaan produsen serta konsumen turun,” kata IMF.

“Di perekonomian negara maju, produksi diperkirakan mengalami kontraksi selama setahun penuh di 2009, penurunan pertama selama periode setelah perang,” kata 185 lembaga keuangan, yang termuat dalam laporan kinerja ekonomi dunia untuk Oktober.

Tahun depan, hampir semua perekonomian di negara maju akan mengalami kontraksi; AS (0,7 persen), Jepang (0,2 persen), Kawasan Eropa (0,5 persen), Inggris (1,3 persen). Hanya Kanada yang tumbuh 0,3 persen.

Pimpinan ekonom IMF, Olivier Blanchard, mengataka lembaga yang berbasis di Washington itu akan melobi negara maju dan yang sedang tumbuh (G-20) untuk “ekspansi fiskal dunia”.

Direktur Pelaksana IMF, Dominique Strauss-Kahn, akan menghadiri pertemuan pimpinan keuangan G-20 akhir pekan ini di Sao Paulo, menjelang pertemuan tingkat tinggi G-20 yang dikumpulkan Presiden AS George W Bush, 15 November di Washington.

Ditanya negara-negara mana yang paling diharapkan melakukan aksi fiskal, ekonom IMF lainnya, Joerg Decressin, mengatakan, AS, Eropa dan terutama Jerman, dan China.

Bank sentral Eropa (ECB) dan Bank of England memangkas suku bunga mereka dalam eskalasi yang dramatis sebagai upaya untuk mencegah resesi.

Ketika ECB memutuskan menurunkan bunga pinjaman sebesar setengah persen poin menjadi 3,25 persen, Bank of England juga menurunkan 1,5 persen poin menjadi 3 persen, yang menurut kalangan analis membingungkan dan mengindikasikan sesuatu yang lebih buruk dari yang sebelumnya difikirkan.

“Ketakutan yang ada saat ini adalah situasi dapat lebih mengerikan dari perkiraan pertama,” kata Joshua Raymond, market strategis di City Index.

Perekonomian Inggris Raya berada diambang resesi setelah kontraksi di kuartal ketiga untuk pertama kalinya sejak 1992 dan Komisi Eropa memperkirakan pekan ini nasib yang sama menunggu 27 negara Uni Eropa pada akhir tahun.

Presiden ECB, Jean-Claude Trichet, mengatakan dia tidak dapat menghindari pemangkasan lainnya: “Saya tidak dapat menghindar bahwa kita akan kembali menurunkan bunga.”

Dua negara Eropa lain yang tidak menggunakan euro, Denmark dan Swiss, juga menurunkan bunga.

PM Kanada, Stephen Harper, mengatakan dia akan meminta para pemimpin G-20 untuk membuat “perbaikan selektif” atas peraturan keuangan nasional dan untuk menyetujui “beberapa dari peraturan yang keliru dan peringatan dini di level internasional…bukan perbaikan besar-besaran.

Pimpinan Ukraina, Kamis (6/11), menerima pinjaman siaga dari IMF senilai 16,4 miliar dolar, Rabu (5/11).

IMF mengatakan akan menyelenggarakan jumpa pers mengenai bantuan pinjaman siaga untuk Hungaria 12,5 miilar euro (16,18 miliardolar AS), setelah lebih dari 3.200 orang kehilangan pekerjaan karena krisis keuangan.

Harapan ditumpukan pada Presiden baru AS, Barack Obama, untuk dapat menangkat kepercayaan untuk membenahi pasar keuangan yang menghancurkan pasar di Asia, Eropa, AS.

Wall Street merosot lebih dari 5 persen, Rabu, sedang Dow Jones Industrial Average turun 4,63 persen di sesi akhir perdagangan dan Nasdaq turun 3,78 persen.

“Setelah bersinar menyusul pemilihan presiden..itu tidak berlangsung lama,” kata Patrick O’Hare di briefing.com.

“Wall Street membuang sedikit waktu untuk mengembalikan perhatian kepada kemerosotan ekonomi dan itu fokus yang masih mengecoh.”

Di Eropa, indeks saham unggulan FTSE 100 di London turun 5,70 persen, CAC 40 di Paris anjlok 6,38 persen, dan DAX Frankfurt turun 6,84 persen.

Harga saham Hong Kong ditutup lebih rendah 7,1 persen, Seoul turun 7,6 persen, dan Nikkei di Tokyo anjlok 6,53 persen.

Dampak dari turunnya Jepang, peekonomian terbesar kedua di dunia, tampak ketika Toyota memangkas perkiraan laba tahunannya lebih dari dua per tiga.

Toyota mengatakan kini laba bersihnya diperkirakan anjlok 68 persen, penurunan pertama selama sembilan tahun.

Krisis keuangan berdampak negatif terhadap perekonomian nyata di seluruh dunia, dan pasar otomotif, terutama di negara berkembang yang ddengan cepat mengalami kontraksi,” kata Wakil Presiden eksekutif Toyota, Mitsuo Kinoshita.

“Ini situasi yang sulit untuk diperkirakan.” (AFP/Ant/OL-06)

http://www.mediaindonesia.com/

Pelaku Usaha Kecewa Keputusan BI Rate

[ Sabtu, 08 November 2008 ]

KALANGAN pelaku usaha menyesalkan keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) pada level 9,5 persen meskipun tingkat inflasi Oktober turun. Belum turunnya BI Rate meyebabkan pergerakan sektor riil menjadi terhambat.

“Dampak penahanan BI rate di 9,50 persen akan mengakibatkan pemberian kredit terhenti, hingga akhirnya dunia usaha akan slow down dan tidak ekspansif,” ujar Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa kemarin.

Menurut dia, pengetatan likuiditas masih akan terjadi sehingga semakin menyulitkan dunia usaha dalam memperoleh pembiayaan. Disisi lain, beberapa industri terpaksa mengurangi produksi karena menurunnya permintaan.

Erwin mengaku para pelaku usaha menyesalkan keputusan Rapat dewan Gubernur BI yang mempertahankan BI rate pada level 9,5 persen itu. BI berdalih keputusan itu sudah berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan, baik dalam negeri maupun luar negeri, serta arah perkembangan laju inflasi. “Kebijakan ini tidak sejalan dengan keinginan pemerintah yang ingin menggerakkan sektor riil,” tukasnya.

Dia menambahkan, keputusan BI mempertahankan BI rate membuat pengusaha tetap terbebani bunga utang yang tinggi. Kondisi itu bisa meningkatkan potensi gagal bayar utang (default). Dalam bisnis, bunga perbankan menjadi sangat penting untuk mengurangi beban dunia usaha. Menurut dia, kenaikan BI rate tidak cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. “Apalagi, masyarakat kini semakin mudah melarikan dananya ke luar negeri,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjut Erwin, BI jangan hanya menggunakan BI rate untuk menstabilkan moneter. Namun, perlu meningkatkan kehati-hatian terhadap valuta asing yang keluar dari Indonesia. Dia mengusulkan BI membuat kebijakan yang mewajibkan seluruh devisa hasil ekspor Indonesia ditarik ke dalam negeri. “Tidak perlu diparkir di negara lain, sehingga langkah-langkah BI akan cukup untuk mengamankan stabilitas moneter Indonesia,” terangnya.

Wakil Ketua Umum Kadin, Chris Kanter mengatakan, upaya BI untuk mendukung pertumbuhan sektor riil harus diimbangi dengan penurunan BI rate. Disisi lain BI menilai BI Rate itu ditetapkan untuk menahan ekspektasi inflasi dan menjaga kurs rupiah. (wir/fan)

http://www.jawapos.com/

Pemerintah Optimistis Hadapi Ancaman Global

Jumat, 07 2008 20:16 WIB

MI/AGUNG WIBOWO

JAKARTA–MI: Pemerintah optimistis mampu menghadapi ancaman perlambatan ekonomi global sebagaimana proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pertumbuhan ekonomi global dan ASEAN yang masing-masing hanya sebesar 2,2 persen dan 4,2 persen.

“Tidak perlu khawatir, semua sudah kita antisipasi dengan berbagai skenario kalau sampai terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi,” ujar Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di Gedung Bappenas Jakarta, Jumat (7/11).

Paskah mengatakan, ada tiga skenario pertumbuhan ekonomi yang sudah disiapkan pemerintah dalam mengantisipasi resiko perlambatan ekonomi dunia tahun 2009.

Ketiga skenario itu adalah tingkat pertumbuhan ekonomi pesimis 5,5-5,8 persen, pertumbuhan moderat 5,8-6 persen, dan pertumbuhan optimis di atas 6 persen.

Data Bappenas sebelumnya mengatakan, keberadaan tiga skenario itu nantinya berkaitan dengan upaya penarikan pinjaman dana siaga (standby loan) 5 miliar dolar AS dari berbagai lembaga donor multilateral.

Dana itu nantinya akan dikucurkan untuk penguatan ekonomi domestik dan jaminan sosial masyarakat. Teknis pengucurannya, kata dia, pemerintah akan melihat sejauh mana pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal pertama 2008.

“Sebab kita sendiri ingin memaksimalkan spending government dengan melakukan revisi pada Keppres 80/2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik maupun aturan kerjasama pemerintah dan swasta,” katanya. (Ant/OL-02)

Rupiah Naik Jadi 10.750 per Dolar AS

Senin, 03 2008 10:29 WIB

JAKARTA–MI: Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (3/11) pagi, menguat karena pelaku pasar optimis laju inflasi Oktober yang akan diumumkan cenderung menurun dibanding bulan sebelumnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik menjadi Rp10.750/10.850 per dolar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp10.975/10.995 atau menguat 225 poin.

Dirut Finance Corpindo Edwin Sinaga di Jakarta mengatakan, pelaku pasar melepas dolar AS karena mereka menilai saatnya untuk mencari untung setelah pekan lalu dolar AS menguat.

“Kami optimis aksi lepas dolar masih berlanjut, maka rupiah pada sore nanti akan kembali menguat,” ujarnya.

Selain itu, pelaku pasar, menurut dia, juga menunggu apakah Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga BI Rate yang saat ini sudah mencapai 9,50%.

Apabila tidak menaikkan, ujarnya, akan memicu pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik yang saat ini masih dalam kondisi yang ketat.

Perbankan dan dunia usaha juga meminta BI untuk menahan diri tidak menaikkan lagi suku bunganya, apalagi kecenderungan inflasi Oktober lalu agak mengendor.

Karena, ujarnya, bank-bank sentral di sejumlah negara cenderung menurunkan suku bunganya untuk memicu pertumbuhan ekonomi, akibat ketatnya likuiditas pasar.

Indonesia saat ini dinilai merupakan pasar yang masih potensial, karena itu investor asing diharapkan masih dapat menginvestasikan dananya di pasar domestik.

Selain selisih tingkat suku bunga rupiah dan dolar AS yang tinggi, ekonomi Indonesia masih tetap tumbuh meski cenderung berkurang dibanding tahun sebelumnya. (Ant/OL-01)

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDEwODc=

Krisis Ekonomi Global Ancam Industri Pulp dan Kertas

Minggu, 02 2008 17:37 WIB
Penulis : Rudi Kurniawansyah

PEKANBARU–MI: Menyusul krisis ekonomi global PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) memutuskan tidak memperpanjang masa kerja karyawan outsourching (kontrak).

“Sebagai bagian dari efisiensi, managemen terpaksa memutus kontrak kerja karyawan outsourching. Saya tidak hafal persis berapa jumlah totalnya. Mereka pada umumnya bekerja di luar sektor produksi,” kata Humas PT IKPP Nurul Huda kepada Media Indonesia, Minggu (2/11).

Nurul juga membantah kabar yang menyebut IKPP akan merampingkan karyawannya sampai 30%. Namun ia mengakui bahwa perusahaan memang menawarkan kepada karyawan jika ada yang ingin mengundurkan diri secara sukarela karena berbagai faktor. “Kepada mereka perusahaan akan tetap membayar hak-hak sesuai hukum perundang-undangan yang berlaku,” ujar Nurul.

Krisis ekonomi global membuat harga penjualan pulp di pasaran dunia jatuh ke kisaran US$560 metrik per ton dari US$850 metrik per ton. Bahkan ada industri yang berani menjual dibawah angka tersebut. Begitu juga halnya dengan harga kertas yang jatuh di kisaran US$ 700.

Menyikapi hal tersebut, Nurul menjelaskan IKPP tetap mempertahankan proses produksi sebagaimana biasanya. Akan tetapi sejumlah pengeluaran seperti lembur dihilangkan. “Kami juga berupaya mengoptimalkan penggunaan peralatan produksi. Diharapkan kondisi pasar ekspor pulp di dunia dapat kembali membaik sehingga memberikan efek positif bagi perekonomian kita,” ujarnya.

Sementara Manager Public Relation Riau Andalan Pulp dan Paper (RAPP) Troy Pantow mengatakan untuk menyelamatkan industri pulp dan kertas Indonesia yang terancam tumbang, pihaknya meminta pemerintah segera menurunkan harga BBM industri guna membantu tekanan harga yang terjadi saat ini.

“Kami meminta pemerintah membantu dengan menurunkan harga bahan bakar untuk industri. Penurunan harga itu dapat menurunkan biaya produksi yang terus meningkat,” ujarnya. (RK/BG/OL-06)

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDA5MzA=

Harga Minyak Indonesia Oktober US$70,66 per Barel

Senin, 03 2008 16:03 WIB
Harga Minyak Indonesia Oktober US$70,66 per Barel

MI/Himanda

JAKARTA–MI: Departemen ESDM mengungkapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) selama bulan Oktober mencapai US$70,66 per barel.

Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo di Jakarta, Senin (3/11), mengatakan, harga rata-rata ICP periode Januari-Oktober masih sebesar US$107,56 per barel.

“Rata-rata ICP sepanjang tahun ini masih di atas patokan APBN Perubahan 2008 yang ditetapkan sebesar 95 dolar AS per barel,” ujarnya. Evita mengatakan, dengan ICP US$107 per barel, maka alokasi subsidi APBN Perubahan 2008 yang dipatok Rp126 triliun sudah terlampaui.

Namun, lanjutnya, pemerintah masih melihat kecenderungan penurunan harga ICP selanjutnya, sebelum memutuskan penurunan harga BBM bersubsidi. Menurut dia, selain subsidi, pertimbangan pemerintah lainnya sebelum menurunkan harga BBM bersubsidi adalah jika harga BBM nonsubsidi sudah di bawah subsidi.

Ia mengatakan, sampai saat ini, harga jual premium nonsubsidi PT Pertamina (Persero) ke konsumen industri belum melewati premium bersubsidi.

Harga premium nonsubsidi yang dijual Pertamina per 1 Nopember 2008 sebesar Rp5.925 per liter belum termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sebesar lima persen.

“Kalau ditambah pajak-pajak maka harga jual premium nonsubsidi menjadi sekitar Rp6.800 per liter. Jadi, masih lebih mahal dari premium subsidi sebesar Rp6.000 per liter,” ujarnya.

Evita juga menambahkan, harga premium bersubsidi Rp6.000 per liter sudah termasuk PPN dan PPBKB. Kalau tidak memasukkan pajak sebesar 15 persen, maka harga premium
subsidi menjadi sekitar Rp5.270 per liter atau masih di bawah premium nonsubsidi Pertamina Rp5.925 per liter.

Sebelumnya, Pertamina mengumumkan harga baru preium nonsubsidi per 1 Nopember 2008 yang berlaku di eks suplai point (depot/transit terminal) selain di UPms VII (Sulawesi), VIII (Maluku dan Papua) dan Propinsi NTT itu turun 18 persen dibandingkan harga periode 15 Oktober 2008 yang Rp6.622 per liter.

Sedang, harga premium nonsubsidi belum termasuk pajak di eks suplai point (depot/transit terminal) di UPms VII adalah Rp6.043 per liter dan eks suplai point (depot/transit terminal) di UPms VIII dan Propinsi NTT adalah Rp6.184 per liter.

Harga BBM nonsubsidi lainnya per 1 Nopember 2008 juga mengalami penurunan dibandingkan 15 Oktober 2008. Minyak tanah turun 16 persen, solar turun 19,9 persen, minyak diesel turun 20,2 persen, diesel V10 turun 20,9 persen, dan minyak bakar turun 23,8 persen.

Perubahan harga diatas disebabkan patokan harga minyak di pasar Singapura dalam rupiah mengalami penurunan berkisar 16-23,8 persen dan nilai tukar rupiah melemah 5,14 persen dari perhitungan harga sebelumnya.

Harga minyak tanah yang berlaku di eks suplai point (depot/transit terminal) selain di UPms VII, VIII dan Propinsi NTT per 1 Nopember 2008 adalah Rp6.687 per liter dari sebelumnya Rp7.629 per liter pada 15 Oktober 2008.

Sedang, solar turun menjadi Rp6.233 dari sebelumnya Rp7.417 per liter, minyak diesel menjadi Rp6.065 dari Rp7.246 per liter, minyak bakar Rp4.549 dari Rp5.723 per liter, diesel V10 Rp5.632 dari Rp6.773 per liter, dan pertamina DEX Rp7.045 dari Rp7.711 per liter. (Ant/OL-02)

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDExMjU=

Target Ekspor Nonmigas Sulit Diprediksi

01 2008 10:28 WIB

ANTARA

JAKARTA–MI: Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui kesulitan dalam memprediksi target ekspor nonmigas untuk tahun 2008 yang dipatok 12,5 persen.

“Kita masih melakukan hitung-hitungan dan sulit untuk diprediksi, yang pasti nantinya akan ada skenario optimis, sedang dan pesimis”, kata Mari Mari dalam jumpa pers didampingi Kepala BPEN, Bachrul Chairi di gedung Depdag, Jakarta, Jumat (31/10).

Pada Juni 2008 lalu, pemerintah merevisi target pertumbuhan ekonomi dari 6,4 persen menjadi 6,1 persen, begitupun target ekspor. Target ekspor non migas kemudian diturunkan dari 13,5 persen menjadi 12,5 persen, sedangkan target ekspor non migas 2009 diubah dari 14 persen ke 13,5 persen. “Hitungannya tergantung sektornya, beberapa sektor tertentu memang akan susah diprediksi ” kata Mendag.

Menurut Mendag, kinerja ekspor non migas Indonesia bulan Januari hingga Agustus 2008 sangat bagus dengan peningkat hingga 30 persen dibanding periode sama tahun 2007. “Sedangkan ekspor non migas tumbuh 22,4 persen dari periode yang sama tahun lalu. Jadi kalaupun dua bulan terakhir ini akan ada penurunan, tetap bisa mencapai target,” harap Mendag. (Ant/OL-06)

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDA3MzU=